Saturday, November 5, 2011

Ojo Dumeh, ojo Nggumun-nan lan ojo Kagetan

Falsafah orang Jawa, sesungguhnya lebih banyak didasarkan pada pengalaman manusia dalam mengarungi dinamika kehidupan. Statemen ini sebagai suatu fakta yang sering tidak dipahami oleh masyarakat. Bahkan dalam dunia pendidikan pembahasan topik ini bisa dibilang sudah tidak ada lagi. Satu sisi dalam dunia pendidikan yang masih konsekuen dengan pernyataan ini adalah bidang pendidikan bahasa, secara khusus dalam pembahasan bahasa Jawa itu sendiri. Fakultas Pendidikan Bahasa dibidang bahasa Jawa sudah tidak ada lagi di Uneversitas modern saat ini. Kalaupun ada pembahasan ini muncul di bidang Sastra Jawa dalam suatu fakultas di perguruan tinggi tertentu. Praktis, kemungkinan diangkatnya sekian banyak falsafah Jawa (orang Jawa) adalah sangat minim. Dalam buku Darmo Gandul yang saat ini dianggap sebagai suatu prasasti yang mungkin sudah tidak ada upaya melestarikannya. Sebagian besar falsafah Jawa sudah ditulis disana, hingga bagi orang atau masyarakat tertentu, khususnya orang Jawa, pada akhirnya dianggap sebagai suatu pesan religi yang sudah usang. Bahkan boleh dibilang tidak modern lagi. Pesan itu pun tanpa memberikan pengaruh sama sekali bagi kehidupan orang Jawa, apalagi masyarakat lainnya. Anak-anak muda masa kini sudah tidak pernah mengenal lagi. Bak suatu motto dengan gaung yang besar hanya sebagai spanduk slogan besar tanpa memberikan makna bagi mereka. Kumpulan tiga frasa ini, ojo dumeh-ojo nggumun-nan lan ojo kagetan, adalah rangkaian kata yang mempunyai ciri-ciri mencerminkan karakter dalam perikehidupan manusia dan masyarakat Jawa khususnya.Sinkronisasinya terletak pada bentuk larangan yang disampaikan dengan himbauan yang mengarah pada suatu keharusan bagi semua orang.
Ojo dumeh
Frasa ini menunjukkan himbauan agar tidak bersifat sombong, namun arti sombong disini tidak sekedar sombong yang berarti congkak dengan kelebihan yang dimiliki. Justru dengan kata dumeh arti congkak lebih fleksibel dalam bahasa Jawa. Sebab kata dumeh kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia terbatas dengan kecongkakan dari kelebihan yang ada. Sedangkan maksud "dumeh" dari bahasa Jawa itu sendiri juga berarti kecongkakan yang tidak hanya dari kelebihan, namun juga kecongkakan yang berarti kelemahan atau suatu kekurangan yang dimiliki. Sekilas, adalah tidak mungkin melakukan kecongkak-an dengan suatu kelemahan atau kekurangan. Bagi orang Jawa, justru sangat memungkinkan menyombongkan diri dengan suatu yang bukan kelebihan. Sebagai contoh, ketika seseorang mengendarai sepeda (pancal) atau becak, yang notabene tanpa motor (mesin). Kemudian, pada situasi tertentu mereka melanggar peraturan lalulintas di jalan (raya). Misal melintas pada jalanan dengan melawan arus jalan yang memang searah. Situasi ini, di sebagian masyarakat merupakan situasi yang biasa dan dianggap tidak melanggar peraturan lalunlintas. Toh, hanya sekedar sepeda (pancal) atau becak. Tetapi akan sangat berbeda bila yang melintas sepeda motor atau mobil, hal ini dianggap melanggar lalulintas. Peraturan lalulintas semestinya berlaku untuk setiap pengguna jalan tanpa kecuali.
Dalam penerapannya, bila kata "dumeh" diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi "mentang-mentang", konotasi yang muncul adalah bentuk kata kesombongan karena suatu kelebihan.